Customer Service

SELAMAT DATANG DI BLOG ELFATAWA DI PERSILAHKAN UNTUK MENYALIN ARTIKEL DI DALAM BLOG UNTUK KEPENTINGAN DA'WAH,SARAN DAN KRITIK MEMBANGUN KAMI HARAPKAN DAN ATAS KUNJUNGANYA KAMI UCAPKAN JAZAHUMULLAH KHOIRON JAZA'

Sabtu, 10 Maret 2012

MU'TAZILAH


DEVINISI :
Secara etimologi : mu’tazilah berasal dari kata عزل – يعتزله- عزلا- وعزله- فاعتزل- وانعزل- فتعزل بمعمنى اننفصال والتحنى yang artinya menyingkir atau memisahkan diri .( lisanul ‘arob 11/ 440 )

Secara terminologi : Mu’tazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai lima pokok keyakinan , meyakini dirinya adalah kelompok pertengahan di antara dua kelompok yaitu murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan khawarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir .(Al milal wan nihal 47- 48 )

SEJARAH DAN SEBAB PENAMAAN

Mu’tazilah, berawal dari penamaan imam hasan al bashri dan pencetus faham mu’tazilah adalah wasil bin ‘ato al ghozzal ( 81- 131 H ). suatu ketika imam hasan al bashri mempunyai majelis pengajian di masjid bashrah. pada suatu hari seorang laki-laki masuk ke dalam pengajian imam hasan al bashri dan bertanya,” wahai imam, di zaman kita ini telah timbul kelompok yang mengkafirkan para pelaku dosa besar yaitu kalangan wa’idiyah khawarij dan juga timbul kelompok lain yang mengatakan maksiat tidak membahayakan iman sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sama sekali bila bersama kekafiran yaitu kelompok murji’ah. bagaimana sikap kita?” imam hasan al bashri terdiam memikirkan jawabannya, saat itulah murid beliau yang bernama washil menyela,” saya tidak mengatakan pelaku dosa besar itu mukmin secara mutlak dan tidak pula kafir secara mutlak, namun dia berada di satu posisi di antara dua posisi, tidak mukmin dan tidak pula kafir. ( fi manzilatin baina manzilataini )” jawaban ini tidak sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunah yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin namun imannya berkurang., tentu saja hasan al bashri membantah jawaban Washil yang tak berlandaskan dalil tadi. Washil kemudian pergi ke salah satu sudut masjid, maka imam hasan al bahsri berkata,” ia telah memisahkan diri dari kita (I’tazalnaa).” Sejak saat itu ia dan orang-orang yang mengikutinya di sebut mu’tazilah, artinya kelompok yang memisahkan diri .( al milal wan nihal 47- 48 )

PEREKEMBANGAN MU'TAZILAH

mu’tazilah pertama kali muncul di basrah yang di bawa oleh washil bin ‘atho adalah murni dalam masalah iman, tidak ada kaitanya dengan siyasah ( politik ), namun seiringberjalanya waktu dan dahsyatnya fitnah kelompok ini, ia berkembang pesat bahkan di anut oleh kholifah umawiyyah walid bin yazid dan marwan bin Muhammad . sekte ini semakin bertambah pesat pada era khilafah abbasiyyah bahkan menjadi madzhab resmi pada masa pemerintahan ma’mun dan mu’tasim ( islam bila madzahib 401 ), pada masa inilah, sekte mu’tazilah menjadi sekte yang memegang peranan penting dalam pemerintahan karena khalifah menganut sekte ini, pada masa itu para pemimpin mu’tazilah seperti biysr al muraisy, tsumamah bin asyras dan ibnu abi du’at menjadi penasehat-penasehat al makmun. pada masa inilah timbul fitnah yang terkenal dengan nama fitnah khalqul qur’an di mana para ulama ahlus sunnah yang menolak mengakui Al Qur’an itu makhluk dipenjarakan dan disiksa, contohnya Imam ahmad. hal ini berlangsung sampai pada pemerintahan Al Mu’tashim dan Al Watsiq.

ASAS PEMIKIRAN MU'TAZILAH

Mu’tazilah adalah firqoh sesat yang dasar pemikiranya berlandaskan akal dan ilmu kalam serta mengedepankan akal dari pada nas alqur’an dan as sunnah, apa yang baik menurut akal maka hal itu baik dan apa yang menurut akal buruk maka hal itu buruk, firqoh ini menganbil nas al quran dan as sunnah sebagai justifikasi jika sesuai dengan akal mereka. Mu’tazilah memiliki lima dasar pemikiran usulul khomsah ( pancasila ) yaitu tauhid, ‘adl ( adil ), wa’d wal wa’id ( janji dan ancaman ), manzilatun baina manzilatain, dan amar ma’ruf nahi mungkar, barang siapa yang mengurangi atau menambahi satu usul saja maka ia tidak berhak di sebut i’tizal .( qowaid manhaj salaf fil fikril islami 113 )

1. Tauhid, dalam masalah tauhid mu’tazilah menafikan sifat sifat azali Allah ta’ala, karena menetapkannya berarti menetapkan dzat yang qadim, serta penetapan sifat Allah bisa menjerumuskan kepada kesyirikan ( menyamakan Allah dengan makhluqnya ) ( lihat bantahanya dalam kitab maqolatul islamiyyin abu hasan al asy’ari ), mereka juga menginkari Allah bisa di lihat di akhirat , serta mengatakan al qur’an adalah makhluq.

2. Adil, menurut mereka Allah tidak menciptakan perbuatan, manusialah yang menciptkan perbuatanya sendiri ( tanpa campur tangan Allah jika Allah menciptakan perbuatan buruk maka artinya Allah berbuat dzolim kepada hambanya karena ia akan mendapat di siksa ), meraka bertanggung jawab atas perbuatan masing masing jika perbuatan itu baik maka di beri pahala namun jika perbuatan itu buruk maka mendapat dosa.

3. wa’d ( janji ) dan wa’id (ancaman ), janji Allah adalah pahala , ancamanNya adalah siksa ( Maknanya orang yang berbuat dosa besar bila belum bertaubat sebelum meninggal, pasti kekal di neraka dan tidak ada syafa’at baginya. Ibnu Taimiyah berkata: “Di antara pokok ajaran Mu’tazilah bersama Khawarij adalah terlaksananya ancaman di akhirat dan bahwasanya Allah tidak menerima syafa’at bagi pelaku dosa besar serta tak seorang pelaku dosa besar pun yang keluar dari neraka , janji Allah adalah di terimanya taubat hamba yang beriman serta Allah mengampuni tanpa taubat, Mereka mengatakan jika Allah mengancam hamba-Nya dengan suatu ancaman maka Allah wajib menyiksanya dan tidak boleh mengingkari ancaman-Nya karena Allah tidak mengingkari janji-Nya. Allah tidak memberi ma’af dan ampunan bagi orang yang dikehendaki-Nya dan tidak pula mengampuni pelaku dosa besar yang tidak bertaubat.

4. Manzilatun baina manzilataini, maksudnya pelaku dosa besar berada di antara dua manzilah tidak mu’min dan tidak kafir sebagai penengah antara khowarij ( pelaku dosa besar kekal di neraka ) dan murji’ah ( dosa besar tidak mempengaruhi iman .


5. Amar ma’ruf nahi mungkar, amar ma’ruf dengan tujuan membela dan menjaga aqidah, nahi mungkar yaitu memerangi orang orang fasiq dan zindiq serta ghulu dalam hal ini diataranya mereka meminta bantuan kepada para kholifah untuk menghakimi para fasiqin dan zindiq versi mereka, seperti halnya fitnah kholqul qur’an.( islam bila madzahib 403 ), bersambung.....
wallahu a'lam ( oleh/ Ugi' Habibullah Mursyid )

di presentasikan pada acara kajian rumah bawah hay sabi'kairo, 9 maret 2012

Minggu, 19 Februari 2012

MENELADANI 'ULAMA AHLUS SUNNAH DALAM MENUNTUT ILMU



PROLOG

Lafadz iqra’ dalam surat Al-‘Alaq telah mengubah para sahabat Rasulullah dari orang-orang jahiliyah yang tadinya menyembah berhala, suka mabuk-mabukan, main perempuan, membunuh anak perempuan yang masih hidup, suka berperang, menjadi orang-orang yang bertauhid kepada Allah SWT, senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Tradisi baca dan tulis-menulis saat itu menjadi hidup, tiap ayat Al-Quran turun, Rasulullah saw memerintahkan Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib untuk menulisnya.

Ilmu adalah lentera kehidupan yang menerangi manusia untuk mengetahui bagai mana ia beribadah kepada Robbnya, bagaimana manusia bergaul dengan sesama, tanpanya hidup menjadi gelap gulita, ia juga merupakan kunci dari persoalan hidup, oleh karena itu imam ali RA berkata " barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia maka harus dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kedua-duanya maka harus dengan ilmu juga " . tidaklah manusia akan hidup di dunia dengan baik jika tidak ada ilmu baginya, dan tidaklah manusia akan sejahtera di akhirat jika tidak ada ilmu baginya.

telah di ketahui bahwa ilmu yang di maksud adalah ilmu syar'i, ilmu yang telah Allah turunkan kepada rosulNya yang berisi petunjuk dan penjelasan yaitu wahyu alqur'an dan assunnah, Rosulullah SAW bersabda " barangsiapa yang di kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memahamkan baginya agama " ( HR, bukhori muslim ).

ilmu syar'i merupakan sebaik baik warisan para nabi kepada ummatnya, warisan yang tidak pernah akan menimbulkan perselisihan, kekal dan tidak akan pernah hilang, mewarisi ilmu berarti mewarisi kebaikan, rosulullah SAW bersabda " sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mewariskan ilmu dan berang siapa yang mengambil ( warisan tersebut ) maka telah mengambil kebaikan yang banyak " ( HR, abu dawud dan turmudzi )

ilmu adalah salah satu di syarat di terimanya amal perbuatan, para ulama’ bersepakat bahwa syarat di terimanya amal perbuatan yaitu :
- muslim
- ikhlas lillahi ta’ala
- sesuai dengan petunjuk nabi SAW ( ilmu )
Jika hilang salah satu dari syarat syarat di terimanya amal maka amal tersebut hanyalah sia sia. fudhail bin ‘iyadh berkata : amal perbuatan jika ikhlas tetapi tidak benar tidak akan di terima, dan jika ia sudah benar tetapi tidak ikhlas maka tidak akan di termia, sehingga amal tersebut ikhlas dan benar, adapun ikhlas hanyalah untuk Allah sementara benar adalah sesuai petunjuk rosulullah SAW. bagaimana manusia akan benar amal perbuatanya jika tidak sesuai dengan petunjuk nabi SAW dan bagaimana manusia akan mengetahui jika amalnya sesuai petunjuk nabi jika ia tidak berilmu.

DEVINISI ILMU


secara etimologi adalah : lawan kata bodoh, yaitu mengetahui sesuatu sampai pada hakekatnya .
secara terminologi adalah : ilmu lebih dari sekedar ma'rifah, yaitu sifat yang menyingkap suatu obyek sampai pada akar akarnya. ( aqidah islamiyyah diktat al muttaqin hal 1 )
kami katakan jika ada kata ilmu maka yang di maksud adalah ilmu syar'i ( agama )

KEUTAMAAN ILMU DAN ORANG YANG BERILMU

Allah SWT berfirman : apakah sama orang yang berilmu dengan orang tidak beilmu...(QS Azzumar : 9 )
` ma’na tersirat dalam ayat di atas adalah tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang jahil, orang yang berilmu mempunyai keutamaan keutamaan sementara orang jahil tidaklah ada keutamaan baginya tetapi hanyalah kegelapan dan kerendahan baginya, adapun keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah :

1. ilmu adalah warisan nabi dan pemilik ilmu adalah pewarisnya, para nabi tidaklah mewarisi dinar, dirham, rupiah, emas, perak dan barang barang berharga lainya, mereka hanyalah mewarisi ilmu, dan siapa yang mengambil ilmu sebagai warisan maka dialah pewaris nabi.

2. Ilmu akan bertambah dan kekal sementara harta akan berkurang dan punah, abu huroiroh RA adalah orang yang paling fakir diantara para sahabat RM sehingga beliau sering terjatuh dan pinsang karena kalaparan, akan tetapi beliau meninggalkan cindera mata yang bukan hanya sekedar cindera mata bahkan pahala yang terus mengalir karena jasa jasa beliau RA kepada umat atas hadits hadits yang di riwayatkan dari rosulullah telah bermanfaat untuk ummat ini Rosulullah SAW bersabda " apabila manusia telah mati maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya " ( HR, muslim )

3. pemilik ilmu adalah penjaga ilmu yang tidak pernah lelah dan ilmu penjaga pemiliknya yang tidak kenal lelah.

4. orang yang berilmu adalah orang yang di saksikan oleh Allah diatas kebenaran, Allah SWT berfirman : " Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". ( QS ali imron : 18 ). ibnu katsir rahimahullah berkata : ini adalah keistimewaan agung bagi para ulama' mereka berada pada maqom qoiman bil qist . ( tafsir ibnu katsir juz II hal 14 )

5. para pemilik ilmu masuk dalam kategori waliyyul amri yang harus di taati, Allah SWT berfirman :" wahai orang orang yang beriman taatilah Allah, taatilah rosulNya, dan taatilah ulil amri dari kalian" ( QS annisa': 59 ). ibnu katsir berkata : secara dzohir ulil amri adalah setiap yang mempunyai perintah yaitu mencakup para umaro dan para ulama' ( tafsir ibnu katsir juz 2 hal 208 ).

sebagaimana di jelaskan ibnu katsir bahwa ullil amri disini adalah para 'ulama dan para umaro', para ulama' bertugas untuk menyampaikan dan menjelaskan ilmu ilmu syar'i adapun para umaro' bertugas untuk mengatur penerapan syari'at Allah.

6. para pemilik ilmu senantiasa berdiri tegak di atas perintah Allah sampai hari kiamat sebagimana rosulullah SAW bersabda : " akan senantiasa ada segolongan dari ummat ini yang tegak di atas perintah Allah SWT tidak membahayakanya orang orang yang menyelisihinya sampai datang perkara Allah" ( HR bukhori 71, muslim 1037 ),

imam ahmad rohimahullah berkata ketika menjelaskan hadits ini : kalau mereka bukan para ahli hadits maka saya tidak tahu siapa mereka.
qodhi iyad berkata : maksud dari perkataan imam ahmad adalah ahlus sunnah dan siapa yang berpegang kepada madzhab ahlul hadits.

7. rosulullah SAW memberi perumpamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, dari Abu Musa al asy'ari RA dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa'atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya". ( HR, bukhori )

8. menempuh jalan untuk menuntut ilmu adalah bagian dari jihad fi sabilillah, serta jalan mudah untuk menuju syurga, rosulullah SAW bersabda : " barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga". ( HR, muslim 2699 ).

9. orang yang berilmu adalah cahaya bagi manusia dalam perkara dunia dan akhirat, ia lebih utama dari pada ahli ibadah sebagaimana sabda rosulullah SAW " keutamaan orang yang berilmu dengan ahli ibadah adalah laksana bulan diantara bintang bintang "

untuk melihat keutamaan ahli ilmu dengan ahli ibadah adalah seperti dalam kisah seorang laki laki bani isroil yang membunuh 99 orang, maka dia bertanya kepada orang orang sehingga mereka menunjukkanya untuk menemui seorang ahli ibadah, ia bertanya: " adakah taubat untukku ? ", ahli ibadah menjawab: "tidak " maka ahli ibadah di bunuh sehingga sempurnalah pembunuhan mencapai 100 orang, lantas dia pergi kepada seorang ahli ilmu dan bertanya tentang taubat, maka ahli ilmu mengabarkan bahwa masih ada peluang untuk bertaubat, dan menunjukkan si pembunuh untuk pergi ke sebuah negri yang penduduknya adalah orang orang sholih, maka dia memenuhi perintah ahli ilmu tadi dan di tengah tengah jalan ia menemui ajalnya, subhanallah kisah yang mengandung banyak hikmah diantaranya adalah perbedaan jauh antara ahli ilmu dengan ahli ibadah yang tidak berilmu.

10. Allah SWT mengangkat derajat orang yang berilmu di dunia dan di akhirat, Allah SWT berfirman : "Allah mengangkat orang orang yang beriman diantara kalian dan orang orang yang berilmu beberapa derajat " (QS, almujadilah 11 ), bisa disaksikan di dunia ini alangkah mulianya orang yang berilmu. dan masih banyak lagi keutamaan keutamaan ilmu serta pemiliknya yang tidak perlu di sebutkan.

TUJUAN MENCARI ILMU
manusia lahir di dunia suci dari dosa karena ia lahir di atas fitrohnya, tanpa mengetahui mana dosa mana pahala, mana yang baik dan mana yang buruk, maka Allah membekali mata, telinga dan hati sebagai sarana untuk mendapat kan ilmu, adapun tujuan tujuan mencari ilmu adalah :

1. mengikhlaskan niat untuk menggapai ridho Allah SWT, niat adalah pondasi dari tujuan tolabul ilmi, karena niat itulah yang akan menentukan hasil dari yang dia tuju, sebagaimana dalam hadits tentang niat yang sangat masyhur diantara kaum muslimin, maka selayaknya para pencari ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam rangka mencari mardhotillah, rosulullah SAW bersabda yang maknanya "barangsiapa yang mencari ilmu dengan tujuan mencari dunia maka dia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat" ( HR, ahmad 8438 ).

tapi bagaimana jika diantara para tolibul ilmi syar'i ada yang mengatakan " saya mencari ijazah bukan untuk tujuan dunia, tapi memang karena da'wah di manusia dengan hikmah adalah kwajiban para tolabul ilmi, maka syaikh ibnu utsaimin rohimahullah berkata : jika niat seseorang mencari ijazah karena ada maslahat untuk orang lain semisal untuk da'wah, mengajar agama, maka niatnya benar terlepas dari niat yang buruk, karena ia meniatkan untuk haq ( lihat al washoya aljaliyah, hal 16 darul kautsar ).

2. mengangkat dirinya dan orang lain dari kebodohan, sebagaimana kami sebutkan diatas bahwa secara realita sejatinya manusia itu lahir dalam keadaan tanpa bodoh tanpa mengetahui karena itulah Allah SWT membekali mata, telinga, dan hati sebagai sarana untuk mengankat diri dari kebodohan sebagaimana firman Allah " dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur " ( an-nahl : 78 ).

imam ahmad rohimahullah berkata : tidak ada satupun yang bisa menandingi ilmu jika ia benar niatnya, mereka berkata : bagaimana hal itu bisa terjadi ? beliau berkata : seseorang mencari ilmu dengan tujuan mengangkat kebodohan dirinya dan orang lain, karena hakekatnya manusia itu jahil sebagaimana juga kalian, jika kalian belajar agama dengan tujuan mengangkat kebodohan ummat ini maka kalian adalah mujahid fisabilillah yang menyebarkan agama Allah.

3. bersikap lapang dada dalam masalah khilafiyyah, ini termasuk poin penting yang harus di perhatikan oleh para tholibul ilmi, adalah berlapang dada dalam masalah khilaf yang bersumber dari ijtihad. Adapun khilafiyyah di antara para ulama’ diantaranya adalah ia tidak mempunyai kapasitas ilmu untuk berijtihad sehingga ijtihadnya asal asalan maka dalam hal ini perkaranya jelas seseorang tidak ada udzur untuk menyelisihinya dengan bersikap santun dan hikmah tanpa menghujat.

Tetapi jika yang di selisihi adalah rosulullah para sahabat dan para salafus sholeh ahlus sunnah wal jama’ah maka perselisihan ini tidak boleh di sikapi lapang dada , adapun masalah khilafiyyah yang harus di sikapi dengan lapang dada adalah masalah khilafiyyah dalam ranah madzhab fiqih, karena ia bersumber dari hasil ijtihad para ulama’ yang mempunyai bidang di dalamnya, maka tidak boleh antar madzhab saling menhujat atau saling membid’ahkan sehingga timbullah fanatik madzhabi yang tercela sementara ta’assub madzhabi merupaka indikasi orang bodoh, jika kita menilik dalam kitab tarikh tasyri’ maka akan kita dapatkan bahwa factor utama jumud dan kebodohan ummat adalah karena, tidak pernah di dapatkan bahwa para imam madzhab saling mencela dan saling mentabdi’ karena persoalan yang mereka selisihi, yang ada adalah mereka saling bertasammuh atau toleransi karena masing masing mempunyai dalil sebagai sandaran pendapatnya. Maka tidak selayaknya perselisihan ini di jadikan ajang permusuhan dan kebencian, saling mencela antara satu dengan lainya.

Tholibul ilmi harus bisa menjaga persatuan, mengokohkan kekuatan, merapatkan barisan, karena jika yang terjadi selain itu maka yang ada hanyalah kerusakan ummat, universitas al azhar adalah contoh dalam penyatuan madzhab ahlus sunnah, dan azhariyyun harus bisa mencontoh, Allah SWT berfirman :” dan janganlah kamu berbantah bantahan maka kalian menjadi gentar dan hilanglah kekuatan kalian …( QS Al anfal : 46 )

4. beramal sesuai dengan ilmu, imam ali berkata : “orang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan amalnya sesuai ilmunya “.

5. berpegang teguh dengan alqur’an dan as sunnah, keduanya adalah sumber utama syari’ah islamiyyah yang di jamin keautentikanya, tidak boleh memisahkan antara keduanya atau memilih salah satu diantara keduanya, tidak boleh menyelisihi al qur’an dan asunnah, tetapi wajib bagi tolibul ilmi khusunya adalah berpegang erat kepada keduanya, mengedepankan keduanya walaupun bertentangan dengan realita, rosulullah SAW bersabda :”aku tinggalkan untuk kalian dua perkara selama kalian berpegang teguh kepada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya yaitu kitabullah dan sunnnahku “, imam abu hanifah berkata : jika telah datang sabda rosulullah maka tidak boleh seorangpun untuk membiarkanya dengan perkataan lainya, imam malik berkata : apa yang datang dari manusia maka bisa di ambil atau di tolak perkataanya kecuali pemilik kuburan ini ( rosulullah ), imam syafi’I berkata : jika ada hadits shohih maka itulah madzhabku, imam ahmad berkata : barrangsiapa yang menolak hadits shohih maka dia berada dalam jurang kebinasaan.

Beberapa perkataan ulama’ ahlus sunnah yang bisa kita ambil hikmah bahwa pendapat yang benar adalah alqur’an dan assunnah serta larangan taqlid kepada imam tertentu jika mereka berada di dalam ijtihad yang salah, maka selayaknya para tholibul ilmi adalah menjadikan dasar hokum yaitu alqur’an dan asunnah serta mengambil kebenaran meninggalkan kesalahan

6. menjaga pemahaman yang lurus sesuai dengan maksud atau kehendak Allah SWT dan rosulullah SAW, hal ini termasuk permasalahan penting yang harus di fahami para tolibul ilmi syar'i, yaitu memahami apa yang Allah dan rosulullah maksudkan di dalam ilmu, karena banyak sekali orang yang belajar ilmu tetapi tidak faham dari apa yang di pelajari, tidak cukup seseorang hanya menghafal alqur'an atau hadits hadits tanpa dia memahami isi kandunganya.

orang yang salah memahami ilmu terkadang lebih berbahaya dari pada salahnya orang jahil, kenapa...???? karena orang jahil itu salah karena dia memang tau kejahilanya dan berusaha untuk belajar, sementara orang yang salah memahami ilmu tanpa ada islah maka dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri tetapi kepada ummat pada umumnya sehingga semuanya berada dalam kesalahan, imam syafi'i rohimahullah berkata : saya beriman kepada Allah atas apa yang di maksud oleh Allah, dan saya beriman kepada rossulullah atas apa yang di maksud oleh rosulullah.

7. berbicara ( fatwa ) dengan ilmu, berbicara masalah agama tanpa ilmu adalah bahaya besar dan sangat tercela apalagi jika dia berbicara dalam masalah halal dan haram tanpa di dasari ilmu, maka bisa jadi akan menghalalkan yang sebenarnya haram, mengharamkan yang sebenarnya halal, membid'ahkan yang sebenarnya sunnah atau sebaliknya, Allah SWT berfirman: "dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung" ( QS, an nahl : 116 ), Allah juga berfirman : " dan janganlah mengatakan tentang Allah apa yang kalian tidak mengetahui ( QS, al a'rof :33 ), maka ilmu adalah pokok penting dalam sebelum berbicara atau sebelum berbuat sesuatu, imam bukhori membuat satu kaidah yaitu : al 'ilmu qoblal qoul wal 'amal ( ilmu sebelum perkataan dan perbuatan ).

LANGKAH LANGKAH PARA ULAMA' DALAM MENUNTUT ILMU

para ulama' ahlussunnah sangat cinta dengan ilmu bahkan di antara mereka ada yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk khidmat terhadap ilmu, menghafal, menelaah, mengajar, mengarang kitab dsb. imam abu hanifah, imam malik bin anas, imam syafi'i, imam ahmad, imam bukhori, imam muslim, imam auza'i, imam laits, imam nawawi, imam ibnu taimiyyah, imam ibnu qoyyim al jauziyyah, imam ibnu hajjar al asqolani, imam jalaluddin as suyuti, imam al isfiroyini, dll adalah ulama’ teladan para tholibul ilmi yang sungguh sungguh ingin mempelajari ilmu syar’i, adapun metode para ulama’ ahlussunnah di dalam menuntut ilmu adalah :

1. menghafal alqur’an, alqur’an adalah sumber pertama ilmu, banyak sekali di dapatkan dalam litab kitab siroh para ulama’ semisal kitab siyar min a’’lami nubala’ karangan imam ad dzahabi bahwa mereka menghafal alqur’an dalam umur kurang dari sepuluh tahun, imam syafi’i telah hafal alqur’an dan menjadi imam sholat pada umut tujuh tahun.
2. menghafal hadits nabi

3. menghafal mutun, seperti matan al jurumiyyah, matan alfiyah ibnu malik, matan abi syuja’, dlll

4. mempelajari ilmu alat, seperti ilmu usul fiqih, mustholahul hadits, ilmu mantiq, ilmu tafsir dll


METODE MENDAPATKAN ILMU


Dua metode di dalam mencari lmu yang di aplikasikan oleh para tholibul ilmi

1. bermulazamah dengan kitab kitab mu’tabar dan tsiqqoh atau di kenal dengan istilah autodidak dengan kitab karangan para ulama’ yang di kenal akan ilmunya, amanah terhadap ilmu, dan selamat aqidahnya dari bid’ah dan khurofat. Tetapi cara ini bisa berbahaya dan bias jadi menyesatkan dirinya, seperti jika ia salah memahami isi kandungan dan maksud kitab, atau akalnya kurang sehingga nanti akan menyimpulkan dengan salah. sehingga berkata dengan hawa nafsu, sesat dan menyesatkan. Bahkan bisa menjadi fitnah bagi si pengarang buku disebabkan salah tafsir si pembaca. Seperti aroma yang tercium dalam keblingeran memahami islam dan teks-teks Al-qur’an dan Sunnah ala kaum sepilis (baca: sekularis,pluralis,liberalis) yang menjilat hasil pemahaman orientalis yang tidak mempelajari islam dengan metode talaqqi

2. bertalaqqi langsung kepada ulama’ yang tsiqqoh baik ilmu maupun agamanya, inilah cara yang paling shohih, karena cara inilah seorang tolib akan mengetahui maksud kitab, mengetahui mana yang shohih sehingga di ambil sebagai hujjah dan mana yang dho’if, sehingga di tinggalkan, pemahaman lurus dan terjaga keafshahanya karena ia langsung belajar kepada guru, sanadnya bersambung karena sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan islam dan umat. Karena sanad inilah Al-qur’an dan sunah nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir dan munafikin. Karena sanad inilah warisan nabi tak dapat diputar balikkan, Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” dikatakan juga: “permisalan orang yang ingin mengetahui perkara agamanya tanpa sanad, seperti orang yang menaiki suthuh (baca: atap atau bagian atas) sebuah rumah tanpa tangga”( muqoddimah shahih muslim 1/47 ). Jika kita telaah kembali dalam ilmu hadits nahwa kalimat isnad hanya ada pada kitab ilmu hadits tetapi metode isnad tidak terbatas pada bidang ilmu hadits. Karena tradisi pewarisan atau transfer keilmuwan islam dengan metode sanad telah berkembang ke berbagai bidang keilmuwan. dan yang paling unggul adalah sanad talaqqi baik dalam aqidah ataupun mazhab fikih yang sampai saat ini di lestarikan oleh ulama dan universitas Al-azhar Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-azhar menjadi sumber ilmu keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah manhaj shahih talaqqi yang memiliki sanad yang jelas dan sangat sistematis dan cara inilah yang di lakukan oleh para ulama’ ahlussunnah terdahulu di dalam mencari ilmu sehingga ilmunya tidak di ragukan, para sahabat belajar dari rosulullah SAW, para tabi’in belajar dari para sahabat, para tabi’ut tabi’in belajar dari tabi’in dan para ulama’ dari generasi ke generasi.. wallahu a’lam

MENGAMBIL FAEDAH DARI SURAT AL ‘ALAQ 1-5

Allah SWT berfirman yang ma’nanya : 1“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2 “Menciptakan manusia dari segumpal darah, 3 “Bacalah, dan tuhanmu itu adalah maha mulia “, 4 Dia yang mengajarkan dengan kalam”, 5 Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu.
Ibnu katsir berkata : al qur’an yang pertama kali turun adalah ayat yang mulia berbarokah ini, dan ayat ini pertama rahmat yang Allah rahmatkan kepada hambanya, pertama ni’mat yang denganya Allah ni’matkan atas hambaNya, di dalamnya terdapat berita tentang permulaan penciptaan manusia dari segumpal darah, dan di antara karomah Allah adalah Dia mengajari manusia apa apa yang tidak di ketahui olehnya maka Allah memulkiakanya dengan ilmu, yang dengannya bapak manusia ( adam ) lebih istimewa dari pada malaikat, ilmu terkadang dengan otak, terkadang dengan lesan, dan terdakadang tulisan. ( tafsir alqur’anul adzim juz 8 hal 273 )
Jika kita menghayati ayat di atas maka akan kita dapatkan faedah bahwa inti untuk mendapatkan ilmu adalah iqra’ ( membaca ) dan qolam ( pena ) yaitu membaca dan menulis adalah kunci ilmu pengetahuan. Wallahu ta’ala a’alm (oleh/ Ugi' Habibullah M dan Muhammad Bakhrul Ilmi )

Referensi :
1. al qur'anul karim dan terjemahnya.
2. shohih bukhori
3. shohih muslim
4. tafsir ibnu katsir
5. al washoya al jaliyyah li tholibi ilmi asy ysari'ah
6. aqidah islamiyyah diktat al muttaqin


Selasa, 22 November 2011

Ukhti Aku Tertarik Sama Anti


“Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.”

Rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, YM, dll,

menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.

Begitu lembut dan halusnya Tipu daya Syetan,

tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.

Tergelincir ke neraka memang mudah, belum pernah terdengar ada cerita tergelincir ke jalan yang benar,

karena jalan menuju kebenaran perlu perjuangan

Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami,

Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya,

langsung berani bebas berinteraksi dengan lawan jenis,

lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah?

Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.

Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial,

pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing,

digantilah status mereka berdua sebagai pasutri,

sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya,

berikut ini petikan obrolannya:

“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.

“‘Wa’alaikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.

“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…”

puji ikhwan Lebay tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit,

maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.

“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”

Sang ikhwan pun tidak mau kalah,

balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”

Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya,(lebay.com) wkkwkwkwkwkwkkw

syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa,

bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.

Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis,

Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……na’udzubillah,

bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!

Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.

Wahai ikhwan, relakah jika adikmu/ saudaramau dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain?

Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main. Mana Tanggung JawabMu, setelah hati mereka kau ambil,

Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.

Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam,

biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman.(LeBay Juga Neeh )
Wahai Ikhwan,

foto dan staTus tidak menjelaskan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka,

hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.

Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia,

jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!

Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu.

Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang tertarik padamu.

Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i,

sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu.

Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius,

tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan,

dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri

Duhai akhwat,koreksilah cara kita berinteraksi dengan para Lelaki ,

apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita?

Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?

Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya

waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi.

Jangan mudah terpedaya oleh rayuan Lelaki di dunia maya.

Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami,

jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram,

--[edited from voa-islam.com]--