BLOG INI ADALAH KUMPULAN BEBERAPA ARTIKEL PRIBADI DAN ARTIKEL DARI BERBAGAI SUMBER DI PERSILAHKAN UNTUK MENYALIN ARTIKEL DI DALAM BLOG UNTUK KEPENTINGAN DA'WAH,SARAN DAN KRITIK MEMBANGUN KAMI HARAPKAN DAN ATAS KUNJUNGANYA KAMI UCAPKAN JAZAKULLAH KHOIRON JAZA'

Kamis, 22 November 2012

PERANG BANI MUSTHALIQ


Oleh : Habib El Mursyid


TAHUN TERJADINYA PERANG
Para ulama’ tarikh berbeda pendapat tentang kapan terjadinya perang bani mustholiq, sekurangnya ada 3 pendapat :
-          Ibnu ishaq meyebutkan perang bani mustoliq terjadi pada bulan sya’ban tahun 6 hijriyah[1], di antaranya yang berpendapat terjadi pada tahun 6  hijriyyah adalah ibnu jarir attobari, ibnu hazm, ibnu abdil barr, ibnul ‘arobi, ibnu atsir, ibnu khloldun rohimahumullah.

-          Para ulama’ tarikh juga berpendapat bahwa perang bani mustholiq terjadi pada tahun 5 hijriyah di antaranya adalah ibnu qutaibah, imam ad dzahabi, ibnu qoyyim, ibnu katsir, ibnu hajar al asqolany dll rohimahumullah. Pendapat ini di perkuat dengan  keikutsertaan Sa'ad bin Muadz dalam peperangan ini. Sa‘ad bin Muadz meninggal pada perang bani quraidlah akibat luka yang dideritanya pada perang khandaq. Perang bani quraidlah terjadi pada tahun kelima hijriyah bagaimana mungkin Sa‘ad masih hidup setahun setelah kematiannya.

-          Namun juga ada yang berpendapat perang terjadi pada tahun 4 hijriyah di antaranya adalah ibnu mas’udi[2].
Adapun pendapat yang paling valid dan rojih  belum di ketahui oleh penulis wallu ‘alam bis sowab.

SEBAB SEBAB TERJADINYA PERANG BANI MUSTHOLIQ

-          Bani mustholiq termasuk daftar merah target operasi kaum muslimin  karena di ketahui ikut serta dalam perang uhud melawan kaum muslimin di bawah bendera kaum kafir quraisy.

-           Nabi saw mendengar bahwa Bani Musthaliq telah berkumpul di bawah pimpinan Harits bin Dlirar untuk menyerang Nabi saw. Tidak lama setelah mendengar berita ini, Rasulullah saw langsung keluar ke arah mereka sampai bertemu di dekat telaga Al-Muraisi, di sinilah terjadi pertempuran sengit sampai Allah swt mengalahkan Bani Musthaliq[3].

KRONOLOGI OPERASI PERANG BANI MUSTHOLIQ

                Para ‘ulama tarikh tidak menyebutkan secara detail  dan terperinci tentang kronologi perang bani mustholiq, mereka hanya menyebutkan  dalam peperangan ini kaum bani mustholiq kalah telak, di sebutkan pada malam senin bulan sya’ban tahun 5 hijriyah setelah rosulullah SAW menugaskan buroidah bin ushaid untuk memastikan berita bahwa mereka akan menyerang madinah, maka Rosulullah  SAW bersama 730 pasukan 30 di antaranya adalah pasukan penunggang kuda bertolak dari madinah menuju bani mustholiq, kemudian terjadi pertempuran sengit yang akhirnya  di menangkan kaum muslimin dan rosulullah berhasil mendapatkan ghonimah, dan membawa tawanan baik wanita maupun anak anak. Namun dalam riwayat lain di sebutkan  tidak ada peperangan kaum muslimin hanya merampas barang harta mereka, setelah mereka terlena dengan air dan minum sebanyak banyaknya maka kamum muslimin memerangi mereka, berhasil membawa tawanan, di antara tawanan tersebut adalah juwairiyyah binti harits putri pembesar bani mustholiq[4].
                Di sebutkan dalam riwayat bahwa sebelumnya bani mustholiq telah di seru untuk masuk islam namun menolak mentah ajakanya.

BEBERAPA KEJADIAN BESAR BERSEJARAH PASCA PERANG BANI MUSTHOLIQ

  1. Rosulullah SAW menikahi juwairiyyah binti harits.
di antara tawanan perang bani mustholiq adalah putri dari pemuka suku yaitu juwairiyyah binti harits bin dhiror, ia adalah wanita yang cantik manis dan terpelajar serta membawa berkah bagi kaumnya. Ia menjadi tawanan kaum muslimin.

Ibnu ishaq meriwayatkan Aisyah Ra berkata : ketika rosulullah SAW membagi bagi para tawanan  bani mustholiq kepada para sahabat, juwairiyyah menjadi bagian tsabit bin qois, namun juwairiyyah ingin membebaskan diri dari tawanan, ia adalah wanita yang sangat manis cantik dan mempesona, ia mendatangi rosulullah SAW dan meminta tolong agar bersedia membebaskanya. Demi Allah aku melihatnya dari kamarku dan aku pun tidak menyukainya, aku sudah membayangkan apa yang akan terjadi, juwairiyyah menemui rosulullah SAW dan mencoba bernegosiasi dan berkata “ wahai rosulullah aku juwairiyyah putri harits bin dhiror pemuka suku ( bani mustholiq ) tapi bencana telah menimpaku yaitu  aku menjadi tawanan perang dan jatuh ke tangan tsabit bin qois, maka aku datang untuk menebus diri dan meminta kepadamu agar besedia membebaskanku “, rosulullah SAW berfikir sejenak lalu balik bertanya “ maukah kamu yang lebih baik dari itu ? “ sambil tercengang ia menjawab “ apa itu wahai rosulullah ?” rosuullah menjawab “ Aku tebus dirimu, lalu kau aku kunikahi “ ia menjawab “ ya aku bersedia”. Kemudian kabar langsung tersiar di antara kaum muslimin bahwa rosulullah SAW telah menikahi juwairiyyah binti harits. Mereka berkata “ rosulullah telah menyambung famili lewat pernikahan bebaskanlah mereka kepada keluarga masing masing”, dari pernikahan ini para sahabat membebaskan 100 tawanan yang masih memiliki hubungan kerabat  dengan juwairiyyah, tidaklah aku melihat wanita yang membawa berkah bagi kaumnya selainya[5]. Setelah itu datang harits bin dhiror ke madinah untuk menebus putrinya, kemudian rosulullah mengajaknya masuk islam.
 Tujuan  yang paling urgen dan prioritas dalam menikahi juwairiyyah adalah demi kemaslahatan islam dan kaum muslimin yaitu kaum muslimin semakin bertambah dengan masuk islamnya bani mustholiq, sehingga kemuliaan dan kejayaan  islam semakin cemerlang.

  1. Kaum munafiqin berusaha menyulut  perpecahan antara kaum muhajirin dan anshor.
Berbeda dengan peperangan sebelumnya tidak sedikit kaum munafiqin yang ikut serta dalam perang bani mustholiq bersama kaum muslimin, karena mereka tau dalam peperangan ini kemenangan berada di posisi kaum muslimin serta mereka akan mendapatkan banyak ghonimah.

                Ketika kaum muslimin berada di telaga muraisi’ mereka mempunyai kesempatan dan celah untuk menyulutkan api  perpecahan antara kaum muhajirin dan anshor yang sekian lama telah mereka bina  persatuanya.

                Diriwayatkan bahwa seorang pelayan Umar bin Kathab ra, bernama Jahja bin Sa‘id al-Ghifari bertengkar dengan Sinan bin Wabr al-Jahni, pertengkaran ini terjadi di dekat telaga al-Muraisi ketika nabi saw singgah di situ. Keduanya berusaha ingin saling membunuh sampai sinan bin wabr al jahni berteriak “wahai kaum anshar“ sedangkan pelayan umar bin kathab juga berteriak “wahai kaum muhajirin“. Mendengar kejadian ini, abdullah bin ubay bin salul berang dan berkata kepada orang-orang munafiq yang mengelilinginya "Apakah mereka (Muhajirin) telah melakukannya? mereka telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di negeri kita sendiri. Demi Allah, antara kita dan orang-orang quraisy ini (kaum muslimin dari quraisy) tak ubahnya seperti apa yang dikatakan orang “gemukkan anjingmu agar menerkammu.“ Demi Allah, jika kita telah sampai di madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina(Muhajirin). Di antara orang yang mendengar ucapan abdullah bin ubay bin Salul ini adalah zaid bin arqam. Ia kemudian melaporkan berita tersebut kepada Rasulullah SAW, pada saat itu umar berada di samping Rasulullah saw, lalu berkata wahai Rasulullah, perintahkan saja Ibbad bin Bisyir untuk membunuhnya“,rasulullah  SAW menjawab "Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang berbicara bahwa muhammad telah membunuh sahabatnya? tidak!“. Kemudian Rasulullah SAW segera memerintahkan kaum muslimin agar cepat-cepat berangkat. Padahal tidak biasanya Rasulullah SAW berangkat pada waktu sepeti itu. Lalu kaum muslimin pun berangkat mematuhi perintah[6].

                Mendengar zaid bin arqom telah melaporkan berita tersebut kepada Rosulullah SAW maka Abdullah bin ubay bin salul menemui rosulullah SAW dan berkata “ demi Allah aku tidak mengatakan hal itu” salah seorang dari kaum anshor membela Abdullah bin ubay dengan mengatakan “ barangkali  pemuda itu telah salah berbicara atau tidak hafal perkataanya.

                Kemudian rosulullah bertemu usaid bin hudhair, lantas ia mengucapkan salam dan berkata “ wahai nabi Allah aku telah selesai istirahat  beberapa saat dan aku tidak pernah beristirahat seperti ini, maka rosulullah menimpalinya “ apa kamu tidak mendengar apa yang di katakana oleh sahabatmu ? “ usaid menjawab “ sahabat yang mana wahai rosulullah ?”, beliau berkata “ Abdullah bin ubay “ usaid berkata “ apa yang ia katakan ?”, rosulullah menjawab “ jika kita telah sampai di madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina”, usaid balas berkata “ apakah engkau ingin keluar darinya?, dia yang hina engkaulah yang mulia”.

Pada hari itu nabi SAW dan kaum Muslimin meneruskan perjalanan sampai ke esokan harinya. ketika mereka berhenti di suatu tempat, tidak seorang pun yang dapat menahan rasa kantuknya. Semua tertidur di tanah. Rasulullah SAW sengaja melakukan hal ini (mengajak berjalan sehari semalam) agar orang-orang melupakan ucapan yang telah diucapkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Kemudian turunlah surat al-Munafiqin, membenarkan laporan zaid bin arqam tentang ucapan abdullah bin ubay bin salul yang telah didengarnya itu. Allah berfirman :"Mereka berkata “sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.“ Padahal kekuatan itu hanyalah dan bagi orang-orang Mukmin , tetapi orang-orang munafiq itu tiada mengetahui.“(  QS al-Munafiqin : 8 )[7].
Abdullah bin Abdullah bin ubay ( anak Abdullah bin ubay bin salul ) menemui rosulullah SAW  dan berkata “ wahai rosulullah telah tersiar kabar kepadaku bahwa engkau ingin membunuh Abdullah bin ubay, jika memang hal itu benar  maka perintahkan kepadaku  untuk membunuhnya  dan aku  akan membawakan kepalanya kepadamu, demi Allah  aku mengetahui  ada  suku khozroj  yang bapaknya lebih baik dari pada bapakku, dan aku takut engkau akan menyuruh orang lain selainku untuk membunuh bapakku, jangan engkau biarkan diriku melihat  pembunuh Abdullah bin ubay berjalan di antara manusia kemudian aku membunuhnya sementara aku membunuh orang mu’min dan aku masuk neraka “ maka rosulullah SAW menjawab “ tidak bahkan kami akan bergaul dan bersahabat dengan baik selama masih di antara kami “ [8].

BEBERAPA PELAJARAN PENTING.

1.       Pelajaran dari perang bani mustholiq :

-          Sebuah Negri  yang ikut serta maupun andil dalam memerangi kaum muslimin ( negri islam ) di bawah bendera kekafiran maka ia juga termasuk Negri harbi yang boleh di perangi dan di ambil ghonimahnya.

-          Bolehnya merampas barang maupun harta di darul harbi setelah sampai  kepada mereka da’wah islam, baik dengan cara kekuatan maupun tipu daya.

-          Boleh menjadikan tawanan perang sebagai budak.

-          Di syari’atkan untuk membagi ghonimah kepada para pasukan setelah disisihkan seperlima dari ghanimah dan barang yang melekat di badan musuh yang terbunuh . Barang yang melekat di badan orang yang terbunuh  ini boleh diambil oleh orang yang membunuhnya. Sabda Nabi saw "Siapa saja membunuh seorang musuh maka dia berhak mengambil barang-barang yang melekat dibadannya[11].  Adapun seperlima dari ghanimah yang disisihkan itu maka harus dibagikan kepada mereka yang disebutkan Allah swt di dalam al qur’an "Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil “ ( QS Al-Anfal : 41 ).  Setelah  ghonimah di ambil seperlima untuk Allah dan rosulnya maka sisanya di bagi kepada pasukan lainya secara adil tanpa menambah ataupun mengurangi, tetapi di riwayatkan bahwa rosulullah SAW membagi kepada penunggang kuda dua bagian dan pejalan kaki satu bagian ( riwayat daruqutni ). Jumhur ‘ulama berkata penunggang kuda di beri dua saham dan infantri satu bagian karena penunggang kuda membutuhkan untuk pengurusan kudanya[12]

2.       Pelajaran dari pernikahan dengan juwairiyyah :

-   Bolehnya menjadikan pembebasan budak sebagai mahar sebagaimana rosulullah terhadap juwairiyyah.

-          Di antara strategi da’wah yang paling jitu adalah menikahi putri seorang  tokoh karena maslahat yang di dapat bukan hanya sekedar menikahi  saja tetapi  akan membawa berkah bagi penduduk maupun orang tuanya sendiri.

-          Menikah berarti juga menyambung family dan kerabat dari kedua belah pihak.

3.       Pelajaran dari ulah Abdullah bin ubay pasca perang bani mustholiq

-          Seorang tokoh harus berwibawa dan bisa menjaga reputasi baik di kalangan kawan maupun lawan, rosulullah SAW bersabda “ Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang berbicara bahwa muhammad telah membunuh sahabatnya? tidak!“.  berbeda antara orang yang berkata bahwa para sahabat nabi sangat mencintai nabi SAW, abu sufyan berkata “ tidaklah aku melihat seseorang mencintai orang lain melebihi cintanya para sahabat muhammad terhadap muhammad sendiri”, dan dengan orang  yag berkata seorang nabi membunuh sahabatnya[13].

-          Berjihad terhadap orang munafik  adalah dengan ilmu dan dialog serta menyampaikan hujjah atas mereka dan tidak membunuhnya selama masih menampakkan keislamanya, hal ini nampak seperti apa yang di katakan oleh rosulullah "Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang berbicara bahwa muhammad telah membunuh sahabatnya? tidak!“, dan sabda beliau terhadap abdullah bin abdullah bin ubay “tidak bahkan kami akan bergaul dan bersahabat dengan baik selama masih di antara kami “. Ini adalah dalil bahwa menjihadi orang munafik tidalah dengan pedang namun dengan ilmu dan menyampikanhujjah. Abdullah bin abbas berkata dalam menafsirkan surat attaubah ayat 73 “ Allah SWT memerintahkan untuk berjihad terhadap orang kafir dengan pedang dan orang munafik dengan lisan[14], ibnu qoyyim al jauziyyah berkata “ begitu juga berjihad terhadap orang munafik yaitu dengan menyampaikan hujjah dan itu lebih sulit dari pada berjihad terhadap orang kafir[15].

-          Larangan fantisme golongan.  Apa yang di katakan oleh pelayan umar “ wahai kaum muhajirin “, dan apa yang di katakan oleh kaum anshor “ wahai kaum anshor”, adalah indikasi kefanatikan atau merupakan ashobiyyah jahiliyyah yang sangat di perangi oleh rosulullah SAW. Rosulullah SAW besabda “ bukan dari golonganku siapa yang menyeru kepada ashobiyyah, bukan dari golongaku siapa yang berperang  karena ashobiyyah, dan bukan dari golongaku  siapa yang mati di atas ashobiyyah”. ( HR abu dawud ).

-          Pentingnya al wala’ wal baro’ berdasarkan ikatan tali iman bukan ikatan darah, hal ini nampak  bahwa abdullah bin abdullah bin ubay bin salul yang rela ingin membunuh bapaknya namun rosulullah SAW melarangnya. Allah berfirman “"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. ( QS al mujadilah : 22 ).

-           Menghukumi sesuatu dari apa yang nampak dan yang terbukti sebagaimana dalam kaidah “ kami menghukumi yang dhohir dan Allah menguasai yang  batin “.


[1] Assiroh nabawiyyah li ibni hisyam 3/183
[2] Lihat siroh nabawiyyah Dr ali assholabi 2/224
[3] Haditsul qur’anil karim ‘an ghozawatir rosul 1/315.
[4] Assiroh ibnu hisyam 3/183.
[5]Ibid 3/187, di riwayatkan oleh imam ahmad, abu dawud, dan ibnu hibban.
[6] Siroh annabawiyyah Dr sa’id romadhon al buthi.
[7] Siroh nabawiyyah Dr ali assholabi 2/233- 234.
[8] Siroh ibnu hisyam 3/185.
[9] Ibid 3/189- 193, tafsir,Tafsir ibnu katsir 5/301-306 maktabah shofa dan lihat sumber lainya.
[10] Ibid.
[11] Siroh nabawiyyah Dr sa’id romadhon al buti.
[12] Tafsir ayatul ahkam 2/436 syaikh ali as shobuni.
[13]Tarbiyyah qiyadiyyah 3/463 di nukil dari siroh nabawiyyah Dr ali sholabi.
[14] Tafsir ibnu katsir juz 4 hal 105 maktabah sofa.
[15] Zadul ma’ad fi hadyi khoiril ibad.

0 komentar:

Poskan Komentar

terima ksih anda telah memberi komentar